KEMUNGKINAN ANCAMAN AKTUAL DAN POTENSIAL
TERHADAP KEDAULATAN DAN KEUTUHAN NKRI
Pergeseran dunia dari bipolar menjadi multipolar berdampak pada situasi yang tidak menentu, perubahan terjadi dengan sangat cepat dan sulit diprediksi. Perubahan yang terjadi secara tidak langsung akan memaksa setiap negara berupaya semaksimal mungkin untuk mengamankan kepentingannya, bagi negara-negara maju, kepentingan tersebut mampu dikemas dengan rapi dalam suatu strategi dengan menggunakan isu HAM, demokratisasi, lingkunganhidup dan terorisme. Permasalahan kedepan yang akan dihadapi adalah perkembangan ekonomi global yang berlandaskan pada perdagangan bebas sebagai strategi negara-negara maju untuk menguasai dan mengendalikan perekonomian dunia. Negara-negara yang mempunyai kekuatan di bidang ekonomi akan melakukan berbagai cara untuk memaksakan kepentingannya. Ketergantungan akan iptek, modal, dan jasa mengakibatkan negara-negara berkembang semakin tidak berdaya untuk menghadapi kekuatan negara-negara maju. Perkembangan teknologi, komunikasi dan informasi secara tidak langsung mewujudkan dunia baru yang seolah-olah tanpa batas, peran media massa, media cetak dan media elektronika akan mampu mempengaruhi opini msyarakat baik positif maupun negatif.
Kemungkinan ancaman terhadap keutuhan dan kedaulatan NKRI dapat berasal dari dalam negeri maupun luar negeri meliputi aspek ideologi dari kelompok radikal kiri dan radikal kanan. Aspek politik meliputi menjelangnya pemilu legillatif dan Pilpres 2009. Aspek ekonomi mengenai tingkat kemiskinan dan pengangguran yang susah ditanggulangi. Aspek sosial budaya dengan meningkatnya kriminalitas. Aspek Pertahanan dan keamanan mengenai kerawanan disintegrasi bangsa yang terjadi di NAD, Papua dan Maluku.
Fakta yang terjadi saat ini adalah ancaman dari luar negeri dan dalam negeri yang berupa ancaman militer dan non militer terhadap keutuhan dan kedaulatan NKRI. Pada bidang ideologi masih seputar ideologi komunis yang terus berupaya untuk menggalang kekuatan dari berbagai sendi kehidupan secara gerakan under ground dalam rangka membangkitkan kejayaan komunis di Indonesia. Sedangkan ideologi Islam masih menjadi impian dan cita-cita dari kelompok ektrimis kanan yang selalu berupaya untuk mengganti Pancasila karena yang dipahami mereka negara Indonesia adalah negara sekuler.
Pada bidang politik mengenai Pemilu 2009 dimana rakyat, elit politik saling terpecah belah karena berbeda partai dan ambisi kekuasaan dengan memberikan isu negatif yang saling menjatuhkan atau pembunuhan karakter seseorang. Pada bidang ekonomi berasal dari krisis ekonomi yang dialami oleh Amerika Serikat yang dampaknya memmpengaruhi ekonomi global termasuk negara kita. Pada bidang sosial budaya mengenai kehidupan rakyat kecil (fakir miskin dan anak jalanan) yang selalu berkutat dalam lingkaran kemiskinan juga pemutusan hubungan kerja oleh pabrik-pabrik yang terimbas dari krisis ekonomi global. Pada bidang pertahanan keamanan terdapat ancaman faktual mengenai kedaulatan udara nasional dimana pesawat tempur tercanggih yang dimiliki TNI AU yaitu pesawat Sukhoi ketika sedang melakukan patroli dikunci oleh misil pesawat tempur negara lain. Ancaman potensial yang mungkin timbul lagi adalah aksi terorisme, gerakan separatis bersenjata, konflik komunal yang bersumber pada masalah SARA, kejahatan lintas negara (penyelundupan/perdagangan manusia, illegal logging, money laundring, penyelundupan BBM dll), gangguan keamanan laut, kerusakan lingkungan akibat, dan bencana alam.
“Every Society continually on the brink of conflict. It must continually adapt its organization and its policy to changing conditions of internal opinions and external pressures” (QUINCY WRIGHT). Memakai dari kata-kata Quincy Wright diatas dapat disimpulkan bahwa tiap-tiap masyarakat baik antara pemerintah dan rakyat, antara rakyat dengan rakyat, juga antara negara dengan negara akan terlibat dalam suatu persengketaan. Oleh karena itulah yang menjadi alasan mengapa permasalahan itu terjadi yang meliputi konflik dalam bidang idiologi, politik ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan, agar kita akan dapat menyesuaikan diri terhadap situasi dan kondisi yang berubah berupa ancaman faktual dan potensial.
Berikut ini dapat kita analisis masalah yang terjadi di negara kita berupa hal-hal yang menjadi akar bagi ancaman kedaualatan dan keutuhan NKRI. Sebagai negara yang baru belajar demokrasi setelah mengalami reformasi dalam segala bidang. Indonesia berupaya mewujudkan tuntutan konstitusional bangsa sebagai negara yang melindungi hak azazi manusia. Dimana kebebasan dijadikan tameng yang dipakai kelompok ektrimis kanan dan ektrimis kiri untuk mengemukakan aspirasinya mengubah ideologi yang telah disepakati bersama dengan ideologi yang mereka yakini kebenarannya. Tentunya sangatlah tidak dapat ditolerir lagi bahwa upaya-upaya semacam itu harus dicegah karena itu merupakan tindakan subversi. Subversi merupakan setiap tindakan atau kegiatan yang bertujuan untuk mengubah atau mengganti falsafah negara atau bertujuan untuk secara tidak sah mengubah atau mengganti UUD, Haluan negara atau mengganggu keselamatan negara, kecuali yang termasuk perang terbuka. Alasan negara kita dengan adalah negara yang mayoritas muslim dan merupakan negara muslim terbesar didunia adalah upaya dari kelompok ekstrimis kanan untuk berjuang mewujudkan negara Islam juga merupakan tindakan subversi.
Pemilu yang akan kita jelang dalam beberapa bulan kedepan menjadikan situasi memanas dimana rakyat mengelompok secara terpisah dan menjadi perebutan elit politk yang ingin menarik simpati demi kepentingan pribadi dan partainya. Rakyat menjadi alat dan taruhan sehingga dapat menjadi korban kekisruhan politik kepentingan sesaat. Bila tidak dapat dikendalikan maka akan menimbulkan konflik horizontal yang mengganggu akan persatuan dan kesatuan nasional.
Era sekarang ini dapat dikatakan sebagai era kapitalisme. Tidak ada satupun sudut muka bumi ini yang terbebas dari pengaruh kapitalisme. Mulai dari pengaturan negara, pengaturan ekonomi, pengaturan sosial, pengaturan hukum, pengaturan pendidikan, sampai kepada seonggok mainan yang ada dalam genggaman anak kecil, di sebuah sudut rumah yang mungil, yang berada di desa yang terpencil, di sebuah negara yang terkucil, semuanya tidak luput dari kapitalisme. Hegemoni kapitalisme sangat dahsyat pengaruhnya bagi perekonomian global. Krisis Ekonomi Global adalah penurunan likuiditas keuangan di hampir seluruh negara-negara di dunia. Faktor yang mendasari pada kali ini adalah krisis ekonomi di USA yang mau diakui maupun tidak adalah negara adikuasa yang punya power terbesar mempengaruhi negara-negara lainnya, krisis di AS dipicu oleh kebijakan Subprime Mortage. Karena Industri-industri besar yang ada di Indonesia sebagian pasar mereka ke USA, krisis di USA mengakibatkan berkurangnya (sampai diberhentikannya) order dari USA, otomatis jika tidak ada order pabrik tidak berproduksi, dan ribuan karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut terpaksa dirumahkan/di PHK. Jadi pengangguran bertambah banyak beban hidup yang semakin berat memicu peningkatan tingkat kejahatan.
Kemorosotan ekonomi sangat berpengaruh signifikan bagi kehidupan sosial budaya. Disuatu negara majupun contohnya Perancis akibat banyaknya pengangguran, susahnya membeli kebutuhan pokok yang harganya tidak terjangkau menimbulkan huru-hara. Begitu pula dengan negara kita, apabila pemerintah tidak cepat tanggap dalam mengantisipasi permasalahan ini maka bukan tidak mungkin akan terjadi pula seperti di Perancis dan juga pernah dialami negara kita beberapa tahun lalu. Pemerataan ekonomi yang tidak adil antara pusat dan daerah, antara si kaya dan si miskin, antara desa dan kota diantaranya menyebabkan anak putus sekolah dan menjadi anak jalanan di kota-kota. Adanya dukun cilik di Jombang Jawa Timur adalah bukti nyata bahwa masyarakat sudah tidak mampu berobat dan tidak percaya kepada pengobatan modern.
Untuk melindungi seluruh rakyat dari Merauke sampai Sabang dengan anggaran pertahanan yang minim menimbulkan alokasi untuk pembelian dan pengadaan Alutsista sangat terbatas. Pembangunan kekuatan saat ini hanya mengisi kesenjangan dari kondisi nyata dengan Tabel Organisasi Perlengkapan (TOP) atau Daftar Susunan Personel dan Peralatan (DSPP). Biaya/ongkos perang di Irak dengan segala macamnya, di Amerika, di Irak sendiri dan lain-lain itu ongkosnya US$ 3 trilyun. Kalau dirupiahkan berapa itu hampir Rp. 30 ribu trilyun. Berarti 27 kali APBN kita dengan harga yang konstan sekarang ini. Jika kita memprioritsaskan menggunakan uang kita untuk untuk membangun pertahanan berapa juta rakyat kita akan kelaparan, putus sekolah, tidak memiliki akses mendapatkan pengobatan. Sedangkan amanat UUD bahwa alokasi APBN kita 20 % untuk pendidikan.
Situasi keamanan menjelang Pemilu akan memanas rakyat akan mudah diadu domba oleh provokator yang ingin mengacaukan stabilitas keamanan. Situasi setelah Pemilu akan menimbulkan kerawanan oleh kubu-kubu yang kalah dalam pesta demokrasi itu untuk menggagalkan hasil yang telah ditetapkan.
Oleh karena itulah diperlukan solusi untuk mengatasi kemungkinan ancaman terhadap kedaulatan dan keutuhan NKRI. Menghadapi tantangan itu maka pemecahan masalah yang dapat menjadi jalan keluar dapat diuraikan sebagai berikut ini.
Bidang idiologi. Radikalisme bersumber dari kelompok masyarakat yang belum memilki kedewasaan. Idiologi sering dipertentangkan dan berkembang menjadi gerakan-gerakan radikal yang mengganggu stabilitas nasional. Akibat fanatisme yang berlebihan dan belum mengerti arti sesungguhnya dari kebebasan demokrasi membuat ekstrimis menghalalkan segala cara menurut pandangan dan keyakinan mereka. Penggunaan kekerasan atau refresif pada waktu zaman Presiden Soeharto mampu meredam gejolak namun dianggap melanggar HAM, bertolak belakang dengan Pancasila dan UUD 1945 oleh pejuang demokrasi dan negara-negara lain sehingga itu menimbulkan antipati terhadap negara. Seyogyanya kita selalu berpegang teguh pada hukum yang berlaku yaitu hukum positif yang bersumber dari Pancasila. Tindakan antisipatip dapat berupa memasyarakatkan kembali akan pentingnya wawasan kebangsaan dimana kita sudah bersatu sejak dikumandangkannya proklamasi dan pengamalan dan penghayatan Pancasila sebagai satu-satunya idiologi yang dapat mewujudkan aspirasi seluruh rakyat Indonesia.
Bidang politik. Seharusnya dapat mempertebal kedewasaan kita dalam berdemokrasi bahwa demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kita dapat belajar dari pemilihan umum di Amerika Serikat bahwa pihak yang menang dapat merangkul pihak yang kalah dan pihak yang kalah selain dapat menerima hasilnya dapat memberi ucapan selamat dan mendukung demi kemajuan dan keselamatan bangsa. Pembelajaran akan makna demokrasi harus menjadi hasrat bagi seluruh rakyat. Kepentingan bangsa harus berada diatas kepentingan pribadi maupun golongan dan partai. Oleh sebab itu wawasan kebangsaan harus menjadi sikap dan pedoman hidup bagi seluruh rakyat.
Bidang ekonomi. Teori ekonomi Liberalisme yang diajarkan oleh Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nations yang mengatur bahwa negara tidak perlu ikut campur tangan dalam urusan ekonomi mekanisme pasar bebas akan dapat menyelesaikan semuanya (the invisible hands). Kapitalisme semula telah mendorong kemajuan yang pesat di negara-negara Eropa namun berdampak simultan yang sangat panjang dan luas. Efek domino yang ditimbulkan akan memaksa berbagai faktor yang lain harus terseret di dalamnya, sebagai sebuah konsekuensi logis terhadap kebutuhan bahan baku yang besar, kebutuhanakan pasar yang luas dan bebas. Sehingga untuk mempertahankan hegemoni kekuasaan ekonomi negara-negara barat memaksakan kehendaknya tentang sistem ekonomi bebas melalui WTO (world trade organization) dan GATT (General Agreement on Tariff and Trade). Sehingga negara miskin dililit utang melalui IMF dan world bank supaya mereka tetap tergantung dan menjadi ladang ekploitasi kepentingannya. Oleh karena itulah sudah menjadi keharusan bagi negara kita untuk ikut campur serta selalu melindungi pengusaha pribumi dan para buruh dengan memberikan insentif berupa kebijakan proteksionis supaya menjamin daya saing terhadap perushaan asing. Pemerintah juga harus selalu menjamin bahan-bahan kebutuhan pokok selalu tersedia dan terjangkau segala lapisan masyarakat. Negara kita juga harus mengembangkan kemandirian ekonomi dengan tidak menambah hutang baru dan segera melunasinya. Masyarakat juga harus ditumbuhkan kesadarannya supaya mencintai produksi dalam negeri dan menghindari budaya konsumerisme serta sedapat mungkin tidak menggunakan buatan luar negeri. Efek domino negatif dari krisis ekonomi Amerika Serikat harus dapat kita bendung. Pabrik-pabrik yang terkena imbas harus mencari peluang baru dan pasar baru misalnya pasar domestik yang berjumlah 250 juta jiwa ini sehingga PHK masal atau perumahan karyawan dapat dihindarkan.
Bidang sosial budaya. Kemiskinan menyebabkan anak-anak harus membantu orang tuanya mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga kesempatan untuk mengenyam pendidikan tidak dapat tercipta. Putus sekolah menimbulkan kebodohan dan kebodohan menimbulkan pengangguran. Pengangguran menyebabkan kemiskinan dan itu diturunkan kepada seluruh keluarganya termasuk anak cucunya. Demikianlah lingkaran setan kemiskinan yang terus berputar. Bangsa yang maju memiliki sumber daya manusia yang berkualitas Karena pembangunan ditopang oleh kemampuan sumberdaya yang mempunyai dayasaing tinggi. Oleh sebab itulah pendidikan menjadi kunci bagi kemajuan bangsa dan sebagi upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Rakyat harus diberikan kesempatan seluas-luasnya dalam mengenyam pendidikan. Buruh juga harus ditingkatkan kemampuan dan keterampilannya dengan memberikan pendidikan dan pelatihan sehingga mempunyai posisi tawar yang tinggi dalam negosiasi dengan pihak perusahaan. Para pekerja kita dapat mengisi lowongan di pasar internasional tidak hanya mengandalkan pekerjaan kasar. Pemahaman tentang jiwa kewirausahaan juga harus ditanamkan bagi semua orang disebabkan sempitnya lapangan pekerjaan. Pemerintah harus memberikan bantuan permodalan dan bantuan dalam pemasaran produk yang dihasilkan mereka. Dengan begitu maka pengentasan kemiskinan dan pengangguran dengan pemerataan hasil-hasil pembangunan dapat selaras.
Bidang Pertahanan dan Keamanan. Bangsa yang cinta damai harus harus siap perang. Kemungkinan benturan kepentingan di antara negara kita dengan negara lain adalah realitas dan kecenderungan dunia abad 21 ini. Dengan gambaran tentang dunia dan negara kita di abad 21 ini, skenario-skenario apa saja yang bisa terjadi. Dalam UUD 1945 pasal 30 sangat gamblang kalau untuk mempertahankan negara kita, pertahanan dan keamanan negara, TNI dan Polri sebagai kekuatan utama, rakyat sebagai kekuatan pendukung. TNI sendiri yang terdiri dari AD, AL, AU bertugas untuk mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara. Skenario yang mungkin menjadi ancaman terhadap keutuhan dan kedaulatan negara kita adalah dikaitkan dengan geopolitik, geoekonomi adalah tiba-tiba kekuatan asing involved dalam sebuah gerakan separatisme di negeri ini. Tiba-tiba, tentu relatif, tetapi urusan dalam negeri kita, ada keterlibatan asing yang tiba-tiba ingin ikut mencampurinya, satu skenario. Skenario yang lain, ada sengketa teritorial di negeri kita ini yang connected to, yang berkaitan dengan permasalahan sumber daya alam, energi misalnya. Itu skenario yang lain. Ada juga skenario yang perlu kita pikirkan. Ada tekanan asing yang disertai kehadiran kekuatan militer mereka, untuk memaksakan kehendaknya yang berkaitan dengan sumber daya alam. Kalau tadi sengketa teritorial, dan teritori itu ada sumber alamnya. Kalau ini kepentingan atau kehausan akan energi bisa saja menimbulkan benturan kepentingan dengan negara kita. Tentu saja skenario ini bisa kita perbanyak, bisa kita tambah. Yang ingin kita kedepankan adalah menghadapi skenario seperti itu apa respons strategis kita, aksi-aksi kita sebagai negara untuk sekali lagi mempertahankan keutuhan dan kedaulatan Indonesia. Pertama-tama, kita tentu harus memilih opsi ketika ancaman itu datang, ketika sengketa itu terjadi. Opsi yang tersedia pada prinsipnya ada dua. Apakah kita untuk mencapai tujuan, memilih cara-cara politik, cara diplomasi, atau kita memilih instrumen militer sebagai cara untuk mencapai tujuan alias kita melakukan perang. Itu adalah opsi yang ada pada kita. Tentu, pertimbangannya mesti lengkap untuk memilih opsi mana yang dipilih oleh sebuah negara.
Memakai strategi yang dihembuskan oleh pemerintahan SBY-Kalla bahwa untuk memenangkan peperangan tidak selalu harus dengan kekuatan militer. Strategi itulah adalah Soft Power yang telah terbukti berhasil dalam menuntaskan masalah separatis GAM di Aceh dan juga daerah-daerah lainnya. Pihak pemerintah tidk perlu malu untuk duduk satu meja dan berhadapan face to face. Dengan tujuan untuk mengambil jalan tengah melalui skema win win solution yang dapat diterima kedua belah pihak. Ketegangan masalah perbatasan dengan Malaysia dapat dihindarkan dengan jalur diplomasi. Dengan demikian diperlukan diplomat-diplomat handal yang bisa dipercaya bila terjadi konflik dengan mengedepankan dialog. Istilah lain juga digembar-gemborkan oleh pemerintahan Amerika Serikat dibawah Presiden barunya yaitu Barrack Husein Obama. Istilah itu adalah Smart Power yang intinya serupa dengan istilah Soft Power. Presiden satu-satunya negara adikuasa itu dengan terang-terangan menyatakan akan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan konflik. Amerika akan duduk satu meja dengan negara-negara yang dianggap musuhnya oleh Presiden terdahulu yaitu Iran, Korea utara, kelompok Hamas dll. Ketulusan sikap Presiden Barrack Obama merupakan cerminan walaupun negara Amerika Serikat bisa melakukan segalanya menyerang negara lain dengan kekuatan militer yang tidak ada tandingannya didunia ini tetapi tetap mengedepankan dialog dalam menyamakan persepsi.
Sebagai organisasi militer maka tantangan TNI harus terus menerus beradaptasi dengan perubahan yang cepat dalam bidang ekonomi, geopoilik, sosial budaya, dan keamanan. TNI gharus menjadi panutan dan menarik simpati masyarakat dalam membangun kekuatan demi mewujudkan tentara profesional, efektif, efisien, modern serta berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat, bangsa dan negara. Diharapkan dengan manunggalnya TNI dan rakyat akan dapat menumbuhkan karakter bangsa yang kuat. Kemajuan ekonomi diharapkan dapat tercipta sehingga masalah pembangunan kekuatan militer dapat ditingkatkan. Karena kita tidak dapat seperti Korea Utara yang memfokuskan diri pada kekuatan militer sedangkan rakyatnya terbelenggu dengan kemiskinan dan kelaparan. Kita juga tidak dapat seperti Jepang yang keamanannya ditanggung Amerika Serikat sehingga dapat memfokuskan masalah kehidupan negara hanya pada segi perekonomian.
Kendala yang dihadapi negara kita dalam menyelesaikan dengan metode seperti itu adalah masalah klasik yaitu kemajuan perekonomian yang belum stabil dan kuat, kualitas SDM yang rendah, isu SARA masih kuat. Selain itu bangsa kita baru belajar demokrasi setelah terlepas dari demokrasi semu yang otoriter. Penegakkan hukum belum maksimal, mindset orang kita susah berubah.
Upaya untuk mengatasi hambatan itu dengan jalan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan kualitas pendidikan kita, mewujudkan kemandirian dalam segala bidang kehidupan, serta menegakan supremasi hukum tanpa pandang bulu dan seadil-adilnya.
Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa untuk menghadapi dan mengantsipasi (earli warning system) kemungkinan ancamaman aktual dan potensial yang dihadapi banga Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI dari aspek idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan diperlukan suatu solusi yang berupa pengamalan dan pemasyarakatan wawasan kebangsaan, pembelajaran demokrasi yang sebenar-benarnya, kemadirian, berdikari pemerataan keadilan pada bidang perekonomian, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pendidikan dengan memberikan akses dan kesempatan yang sama pada pendidikan, menjalankan prinsip Soft Power/Smart Power melalui pendekatan dialog dan diplomasi, penegakan supremasi hukum seiring pembangunan kekuatan militer yang berkesinambungan bersama rakyat, sehingga dapat tercipta kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI sebagai harga mati.
Pergeseran dunia dari bipolar menjadi multipolar berdampak pada situasi yang tidak menentu, perubahan terjadi dengan sangat cepat dan sulit diprediksi. Perubahan yang terjadi secara tidak langsung akan memaksa setiap negara berupaya semaksimal mungkin untuk mengamankan kepentingannya, bagi negara-negara maju, kepentingan tersebut mampu dikemas dengan rapi dalam suatu strategi dengan menggunakan isu HAM, demokratisasi, lingkunganhidup dan terorisme. Permasalahan kedepan yang akan dihadapi adalah perkembangan ekonomi global yang berlandaskan pada perdagangan bebas sebagai strategi negara-negara maju untuk menguasai dan mengendalikan perekonomian dunia. Negara-negara yang mempunyai kekuatan di bidang ekonomi akan melakukan berbagai cara untuk memaksakan kepentingannya. Ketergantungan akan iptek, modal, dan jasa mengakibatkan negara-negara berkembang semakin tidak berdaya untuk menghadapi kekuatan negara-negara maju. Perkembangan teknologi, komunikasi dan informasi secara tidak langsung mewujudkan dunia baru yang seolah-olah tanpa batas, peran media massa, media cetak dan media elektronika akan mampu mempengaruhi opini msyarakat baik positif maupun negatif.
Kemungkinan ancaman terhadap keutuhan dan kedaulatan NKRI dapat berasal dari dalam negeri maupun luar negeri meliputi aspek ideologi dari kelompok radikal kiri dan radikal kanan. Aspek politik meliputi menjelangnya pemilu legillatif dan Pilpres 2009. Aspek ekonomi mengenai tingkat kemiskinan dan pengangguran yang susah ditanggulangi. Aspek sosial budaya dengan meningkatnya kriminalitas. Aspek Pertahanan dan keamanan mengenai kerawanan disintegrasi bangsa yang terjadi di NAD, Papua dan Maluku.
Fakta yang terjadi saat ini adalah ancaman dari luar negeri dan dalam negeri yang berupa ancaman militer dan non militer terhadap keutuhan dan kedaulatan NKRI. Pada bidang ideologi masih seputar ideologi komunis yang terus berupaya untuk menggalang kekuatan dari berbagai sendi kehidupan secara gerakan under ground dalam rangka membangkitkan kejayaan komunis di Indonesia. Sedangkan ideologi Islam masih menjadi impian dan cita-cita dari kelompok ektrimis kanan yang selalu berupaya untuk mengganti Pancasila karena yang dipahami mereka negara Indonesia adalah negara sekuler.
Pada bidang politik mengenai Pemilu 2009 dimana rakyat, elit politik saling terpecah belah karena berbeda partai dan ambisi kekuasaan dengan memberikan isu negatif yang saling menjatuhkan atau pembunuhan karakter seseorang. Pada bidang ekonomi berasal dari krisis ekonomi yang dialami oleh Amerika Serikat yang dampaknya memmpengaruhi ekonomi global termasuk negara kita. Pada bidang sosial budaya mengenai kehidupan rakyat kecil (fakir miskin dan anak jalanan) yang selalu berkutat dalam lingkaran kemiskinan juga pemutusan hubungan kerja oleh pabrik-pabrik yang terimbas dari krisis ekonomi global. Pada bidang pertahanan keamanan terdapat ancaman faktual mengenai kedaulatan udara nasional dimana pesawat tempur tercanggih yang dimiliki TNI AU yaitu pesawat Sukhoi ketika sedang melakukan patroli dikunci oleh misil pesawat tempur negara lain. Ancaman potensial yang mungkin timbul lagi adalah aksi terorisme, gerakan separatis bersenjata, konflik komunal yang bersumber pada masalah SARA, kejahatan lintas negara (penyelundupan/perdagangan manusia, illegal logging, money laundring, penyelundupan BBM dll), gangguan keamanan laut, kerusakan lingkungan akibat, dan bencana alam.
“Every Society continually on the brink of conflict. It must continually adapt its organization and its policy to changing conditions of internal opinions and external pressures” (QUINCY WRIGHT). Memakai dari kata-kata Quincy Wright diatas dapat disimpulkan bahwa tiap-tiap masyarakat baik antara pemerintah dan rakyat, antara rakyat dengan rakyat, juga antara negara dengan negara akan terlibat dalam suatu persengketaan. Oleh karena itulah yang menjadi alasan mengapa permasalahan itu terjadi yang meliputi konflik dalam bidang idiologi, politik ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan, agar kita akan dapat menyesuaikan diri terhadap situasi dan kondisi yang berubah berupa ancaman faktual dan potensial.
Berikut ini dapat kita analisis masalah yang terjadi di negara kita berupa hal-hal yang menjadi akar bagi ancaman kedaualatan dan keutuhan NKRI. Sebagai negara yang baru belajar demokrasi setelah mengalami reformasi dalam segala bidang. Indonesia berupaya mewujudkan tuntutan konstitusional bangsa sebagai negara yang melindungi hak azazi manusia. Dimana kebebasan dijadikan tameng yang dipakai kelompok ektrimis kanan dan ektrimis kiri untuk mengemukakan aspirasinya mengubah ideologi yang telah disepakati bersama dengan ideologi yang mereka yakini kebenarannya. Tentunya sangatlah tidak dapat ditolerir lagi bahwa upaya-upaya semacam itu harus dicegah karena itu merupakan tindakan subversi. Subversi merupakan setiap tindakan atau kegiatan yang bertujuan untuk mengubah atau mengganti falsafah negara atau bertujuan untuk secara tidak sah mengubah atau mengganti UUD, Haluan negara atau mengganggu keselamatan negara, kecuali yang termasuk perang terbuka. Alasan negara kita dengan adalah negara yang mayoritas muslim dan merupakan negara muslim terbesar didunia adalah upaya dari kelompok ekstrimis kanan untuk berjuang mewujudkan negara Islam juga merupakan tindakan subversi.
Pemilu yang akan kita jelang dalam beberapa bulan kedepan menjadikan situasi memanas dimana rakyat mengelompok secara terpisah dan menjadi perebutan elit politk yang ingin menarik simpati demi kepentingan pribadi dan partainya. Rakyat menjadi alat dan taruhan sehingga dapat menjadi korban kekisruhan politik kepentingan sesaat. Bila tidak dapat dikendalikan maka akan menimbulkan konflik horizontal yang mengganggu akan persatuan dan kesatuan nasional.
Era sekarang ini dapat dikatakan sebagai era kapitalisme. Tidak ada satupun sudut muka bumi ini yang terbebas dari pengaruh kapitalisme. Mulai dari pengaturan negara, pengaturan ekonomi, pengaturan sosial, pengaturan hukum, pengaturan pendidikan, sampai kepada seonggok mainan yang ada dalam genggaman anak kecil, di sebuah sudut rumah yang mungil, yang berada di desa yang terpencil, di sebuah negara yang terkucil, semuanya tidak luput dari kapitalisme. Hegemoni kapitalisme sangat dahsyat pengaruhnya bagi perekonomian global. Krisis Ekonomi Global adalah penurunan likuiditas keuangan di hampir seluruh negara-negara di dunia. Faktor yang mendasari pada kali ini adalah krisis ekonomi di USA yang mau diakui maupun tidak adalah negara adikuasa yang punya power terbesar mempengaruhi negara-negara lainnya, krisis di AS dipicu oleh kebijakan Subprime Mortage. Karena Industri-industri besar yang ada di Indonesia sebagian pasar mereka ke USA, krisis di USA mengakibatkan berkurangnya (sampai diberhentikannya) order dari USA, otomatis jika tidak ada order pabrik tidak berproduksi, dan ribuan karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut terpaksa dirumahkan/di PHK. Jadi pengangguran bertambah banyak beban hidup yang semakin berat memicu peningkatan tingkat kejahatan.
Kemorosotan ekonomi sangat berpengaruh signifikan bagi kehidupan sosial budaya. Disuatu negara majupun contohnya Perancis akibat banyaknya pengangguran, susahnya membeli kebutuhan pokok yang harganya tidak terjangkau menimbulkan huru-hara. Begitu pula dengan negara kita, apabila pemerintah tidak cepat tanggap dalam mengantisipasi permasalahan ini maka bukan tidak mungkin akan terjadi pula seperti di Perancis dan juga pernah dialami negara kita beberapa tahun lalu. Pemerataan ekonomi yang tidak adil antara pusat dan daerah, antara si kaya dan si miskin, antara desa dan kota diantaranya menyebabkan anak putus sekolah dan menjadi anak jalanan di kota-kota. Adanya dukun cilik di Jombang Jawa Timur adalah bukti nyata bahwa masyarakat sudah tidak mampu berobat dan tidak percaya kepada pengobatan modern.
Untuk melindungi seluruh rakyat dari Merauke sampai Sabang dengan anggaran pertahanan yang minim menimbulkan alokasi untuk pembelian dan pengadaan Alutsista sangat terbatas. Pembangunan kekuatan saat ini hanya mengisi kesenjangan dari kondisi nyata dengan Tabel Organisasi Perlengkapan (TOP) atau Daftar Susunan Personel dan Peralatan (DSPP). Biaya/ongkos perang di Irak dengan segala macamnya, di Amerika, di Irak sendiri dan lain-lain itu ongkosnya US$ 3 trilyun. Kalau dirupiahkan berapa itu hampir Rp. 30 ribu trilyun. Berarti 27 kali APBN kita dengan harga yang konstan sekarang ini. Jika kita memprioritsaskan menggunakan uang kita untuk untuk membangun pertahanan berapa juta rakyat kita akan kelaparan, putus sekolah, tidak memiliki akses mendapatkan pengobatan. Sedangkan amanat UUD bahwa alokasi APBN kita 20 % untuk pendidikan.
Situasi keamanan menjelang Pemilu akan memanas rakyat akan mudah diadu domba oleh provokator yang ingin mengacaukan stabilitas keamanan. Situasi setelah Pemilu akan menimbulkan kerawanan oleh kubu-kubu yang kalah dalam pesta demokrasi itu untuk menggagalkan hasil yang telah ditetapkan.
Oleh karena itulah diperlukan solusi untuk mengatasi kemungkinan ancaman terhadap kedaulatan dan keutuhan NKRI. Menghadapi tantangan itu maka pemecahan masalah yang dapat menjadi jalan keluar dapat diuraikan sebagai berikut ini.
Bidang idiologi. Radikalisme bersumber dari kelompok masyarakat yang belum memilki kedewasaan. Idiologi sering dipertentangkan dan berkembang menjadi gerakan-gerakan radikal yang mengganggu stabilitas nasional. Akibat fanatisme yang berlebihan dan belum mengerti arti sesungguhnya dari kebebasan demokrasi membuat ekstrimis menghalalkan segala cara menurut pandangan dan keyakinan mereka. Penggunaan kekerasan atau refresif pada waktu zaman Presiden Soeharto mampu meredam gejolak namun dianggap melanggar HAM, bertolak belakang dengan Pancasila dan UUD 1945 oleh pejuang demokrasi dan negara-negara lain sehingga itu menimbulkan antipati terhadap negara. Seyogyanya kita selalu berpegang teguh pada hukum yang berlaku yaitu hukum positif yang bersumber dari Pancasila. Tindakan antisipatip dapat berupa memasyarakatkan kembali akan pentingnya wawasan kebangsaan dimana kita sudah bersatu sejak dikumandangkannya proklamasi dan pengamalan dan penghayatan Pancasila sebagai satu-satunya idiologi yang dapat mewujudkan aspirasi seluruh rakyat Indonesia.
Bidang politik. Seharusnya dapat mempertebal kedewasaan kita dalam berdemokrasi bahwa demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kita dapat belajar dari pemilihan umum di Amerika Serikat bahwa pihak yang menang dapat merangkul pihak yang kalah dan pihak yang kalah selain dapat menerima hasilnya dapat memberi ucapan selamat dan mendukung demi kemajuan dan keselamatan bangsa. Pembelajaran akan makna demokrasi harus menjadi hasrat bagi seluruh rakyat. Kepentingan bangsa harus berada diatas kepentingan pribadi maupun golongan dan partai. Oleh sebab itu wawasan kebangsaan harus menjadi sikap dan pedoman hidup bagi seluruh rakyat.
Bidang ekonomi. Teori ekonomi Liberalisme yang diajarkan oleh Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nations yang mengatur bahwa negara tidak perlu ikut campur tangan dalam urusan ekonomi mekanisme pasar bebas akan dapat menyelesaikan semuanya (the invisible hands). Kapitalisme semula telah mendorong kemajuan yang pesat di negara-negara Eropa namun berdampak simultan yang sangat panjang dan luas. Efek domino yang ditimbulkan akan memaksa berbagai faktor yang lain harus terseret di dalamnya, sebagai sebuah konsekuensi logis terhadap kebutuhan bahan baku yang besar, kebutuhanakan pasar yang luas dan bebas. Sehingga untuk mempertahankan hegemoni kekuasaan ekonomi negara-negara barat memaksakan kehendaknya tentang sistem ekonomi bebas melalui WTO (world trade organization) dan GATT (General Agreement on Tariff and Trade). Sehingga negara miskin dililit utang melalui IMF dan world bank supaya mereka tetap tergantung dan menjadi ladang ekploitasi kepentingannya. Oleh karena itulah sudah menjadi keharusan bagi negara kita untuk ikut campur serta selalu melindungi pengusaha pribumi dan para buruh dengan memberikan insentif berupa kebijakan proteksionis supaya menjamin daya saing terhadap perushaan asing. Pemerintah juga harus selalu menjamin bahan-bahan kebutuhan pokok selalu tersedia dan terjangkau segala lapisan masyarakat. Negara kita juga harus mengembangkan kemandirian ekonomi dengan tidak menambah hutang baru dan segera melunasinya. Masyarakat juga harus ditumbuhkan kesadarannya supaya mencintai produksi dalam negeri dan menghindari budaya konsumerisme serta sedapat mungkin tidak menggunakan buatan luar negeri. Efek domino negatif dari krisis ekonomi Amerika Serikat harus dapat kita bendung. Pabrik-pabrik yang terkena imbas harus mencari peluang baru dan pasar baru misalnya pasar domestik yang berjumlah 250 juta jiwa ini sehingga PHK masal atau perumahan karyawan dapat dihindarkan.
Bidang sosial budaya. Kemiskinan menyebabkan anak-anak harus membantu orang tuanya mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga kesempatan untuk mengenyam pendidikan tidak dapat tercipta. Putus sekolah menimbulkan kebodohan dan kebodohan menimbulkan pengangguran. Pengangguran menyebabkan kemiskinan dan itu diturunkan kepada seluruh keluarganya termasuk anak cucunya. Demikianlah lingkaran setan kemiskinan yang terus berputar. Bangsa yang maju memiliki sumber daya manusia yang berkualitas Karena pembangunan ditopang oleh kemampuan sumberdaya yang mempunyai dayasaing tinggi. Oleh sebab itulah pendidikan menjadi kunci bagi kemajuan bangsa dan sebagi upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Rakyat harus diberikan kesempatan seluas-luasnya dalam mengenyam pendidikan. Buruh juga harus ditingkatkan kemampuan dan keterampilannya dengan memberikan pendidikan dan pelatihan sehingga mempunyai posisi tawar yang tinggi dalam negosiasi dengan pihak perusahaan. Para pekerja kita dapat mengisi lowongan di pasar internasional tidak hanya mengandalkan pekerjaan kasar. Pemahaman tentang jiwa kewirausahaan juga harus ditanamkan bagi semua orang disebabkan sempitnya lapangan pekerjaan. Pemerintah harus memberikan bantuan permodalan dan bantuan dalam pemasaran produk yang dihasilkan mereka. Dengan begitu maka pengentasan kemiskinan dan pengangguran dengan pemerataan hasil-hasil pembangunan dapat selaras.
Bidang Pertahanan dan Keamanan. Bangsa yang cinta damai harus harus siap perang. Kemungkinan benturan kepentingan di antara negara kita dengan negara lain adalah realitas dan kecenderungan dunia abad 21 ini. Dengan gambaran tentang dunia dan negara kita di abad 21 ini, skenario-skenario apa saja yang bisa terjadi. Dalam UUD 1945 pasal 30 sangat gamblang kalau untuk mempertahankan negara kita, pertahanan dan keamanan negara, TNI dan Polri sebagai kekuatan utama, rakyat sebagai kekuatan pendukung. TNI sendiri yang terdiri dari AD, AL, AU bertugas untuk mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara. Skenario yang mungkin menjadi ancaman terhadap keutuhan dan kedaulatan negara kita adalah dikaitkan dengan geopolitik, geoekonomi adalah tiba-tiba kekuatan asing involved dalam sebuah gerakan separatisme di negeri ini. Tiba-tiba, tentu relatif, tetapi urusan dalam negeri kita, ada keterlibatan asing yang tiba-tiba ingin ikut mencampurinya, satu skenario. Skenario yang lain, ada sengketa teritorial di negeri kita ini yang connected to, yang berkaitan dengan permasalahan sumber daya alam, energi misalnya. Itu skenario yang lain. Ada juga skenario yang perlu kita pikirkan. Ada tekanan asing yang disertai kehadiran kekuatan militer mereka, untuk memaksakan kehendaknya yang berkaitan dengan sumber daya alam. Kalau tadi sengketa teritorial, dan teritori itu ada sumber alamnya. Kalau ini kepentingan atau kehausan akan energi bisa saja menimbulkan benturan kepentingan dengan negara kita. Tentu saja skenario ini bisa kita perbanyak, bisa kita tambah. Yang ingin kita kedepankan adalah menghadapi skenario seperti itu apa respons strategis kita, aksi-aksi kita sebagai negara untuk sekali lagi mempertahankan keutuhan dan kedaulatan Indonesia. Pertama-tama, kita tentu harus memilih opsi ketika ancaman itu datang, ketika sengketa itu terjadi. Opsi yang tersedia pada prinsipnya ada dua. Apakah kita untuk mencapai tujuan, memilih cara-cara politik, cara diplomasi, atau kita memilih instrumen militer sebagai cara untuk mencapai tujuan alias kita melakukan perang. Itu adalah opsi yang ada pada kita. Tentu, pertimbangannya mesti lengkap untuk memilih opsi mana yang dipilih oleh sebuah negara.
Memakai strategi yang dihembuskan oleh pemerintahan SBY-Kalla bahwa untuk memenangkan peperangan tidak selalu harus dengan kekuatan militer. Strategi itulah adalah Soft Power yang telah terbukti berhasil dalam menuntaskan masalah separatis GAM di Aceh dan juga daerah-daerah lainnya. Pihak pemerintah tidk perlu malu untuk duduk satu meja dan berhadapan face to face. Dengan tujuan untuk mengambil jalan tengah melalui skema win win solution yang dapat diterima kedua belah pihak. Ketegangan masalah perbatasan dengan Malaysia dapat dihindarkan dengan jalur diplomasi. Dengan demikian diperlukan diplomat-diplomat handal yang bisa dipercaya bila terjadi konflik dengan mengedepankan dialog. Istilah lain juga digembar-gemborkan oleh pemerintahan Amerika Serikat dibawah Presiden barunya yaitu Barrack Husein Obama. Istilah itu adalah Smart Power yang intinya serupa dengan istilah Soft Power. Presiden satu-satunya negara adikuasa itu dengan terang-terangan menyatakan akan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan konflik. Amerika akan duduk satu meja dengan negara-negara yang dianggap musuhnya oleh Presiden terdahulu yaitu Iran, Korea utara, kelompok Hamas dll. Ketulusan sikap Presiden Barrack Obama merupakan cerminan walaupun negara Amerika Serikat bisa melakukan segalanya menyerang negara lain dengan kekuatan militer yang tidak ada tandingannya didunia ini tetapi tetap mengedepankan dialog dalam menyamakan persepsi.
Sebagai organisasi militer maka tantangan TNI harus terus menerus beradaptasi dengan perubahan yang cepat dalam bidang ekonomi, geopoilik, sosial budaya, dan keamanan. TNI gharus menjadi panutan dan menarik simpati masyarakat dalam membangun kekuatan demi mewujudkan tentara profesional, efektif, efisien, modern serta berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat, bangsa dan negara. Diharapkan dengan manunggalnya TNI dan rakyat akan dapat menumbuhkan karakter bangsa yang kuat. Kemajuan ekonomi diharapkan dapat tercipta sehingga masalah pembangunan kekuatan militer dapat ditingkatkan. Karena kita tidak dapat seperti Korea Utara yang memfokuskan diri pada kekuatan militer sedangkan rakyatnya terbelenggu dengan kemiskinan dan kelaparan. Kita juga tidak dapat seperti Jepang yang keamanannya ditanggung Amerika Serikat sehingga dapat memfokuskan masalah kehidupan negara hanya pada segi perekonomian.
Kendala yang dihadapi negara kita dalam menyelesaikan dengan metode seperti itu adalah masalah klasik yaitu kemajuan perekonomian yang belum stabil dan kuat, kualitas SDM yang rendah, isu SARA masih kuat. Selain itu bangsa kita baru belajar demokrasi setelah terlepas dari demokrasi semu yang otoriter. Penegakkan hukum belum maksimal, mindset orang kita susah berubah.
Upaya untuk mengatasi hambatan itu dengan jalan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan kualitas pendidikan kita, mewujudkan kemandirian dalam segala bidang kehidupan, serta menegakan supremasi hukum tanpa pandang bulu dan seadil-adilnya.
Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa untuk menghadapi dan mengantsipasi (earli warning system) kemungkinan ancamaman aktual dan potensial yang dihadapi banga Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI dari aspek idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan diperlukan suatu solusi yang berupa pengamalan dan pemasyarakatan wawasan kebangsaan, pembelajaran demokrasi yang sebenar-benarnya, kemadirian, berdikari pemerataan keadilan pada bidang perekonomian, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pendidikan dengan memberikan akses dan kesempatan yang sama pada pendidikan, menjalankan prinsip Soft Power/Smart Power melalui pendekatan dialog dan diplomasi, penegakan supremasi hukum seiring pembangunan kekuatan militer yang berkesinambungan bersama rakyat, sehingga dapat tercipta kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI sebagai harga mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar