KONFLIK ISRAEL DENGAN HAMAS DI GAZA
Pada akhir Desember 2008, gencatan senjata antara Hamas dengan Israel berakhir setelah adanya serangan roket yang diluncurkan oleh Hamas. Israel merespon serangan tersebut dengan serangan udara Pada tanggal 3 Januari 2009, pasukan Israel memasuki kota Gaza dan memulai serangan darat. Pada tanggal 17 Januari 2009, Israel mengumumkan gencatan senjata secara sepihak dengan syarat dihentikannya serangan roket dan mortir. Hal ini kemudian diikuti oleh Hamas yang juga mengumumkan gencatan senjata dengan syarat ditariknya pasukan Israel dari Gaza serta dibukanya kembali perbatasan.
Serangan Israel ke Jalur Gaza sejak 27 Desember telah menyebabkan kerugian material senilai Rp 5,235 triliun. Ini adalah kerugian yang amat besar bagi 1,4 juta penduduk Jalur Gaza. Hal ini baru kerugian dari kehancuran infrastruktur akibat serangan terus-menerus oleh militer Israel. Jumlah korban tewas hingga hari Sabtu sudah mencapai 1.201 orang, termasuk 410 anak-anak. Jumlah korban cedera sudah mencapai 5.300 orang dan sebanyak 1.630 di antaranya adalah anak-anak, berdasarkan catatan Departemen kesehatan Jalur Gaza. Sebagian besar warga yang selamat telantar karena akses bagi bantuan kemanusiaan dihambat Israel. Biro Pusat Statistik Palestina, Sabtu di Jalur Gaza, mengumumkan bahwa 4.000 rumah hunian telah rata dengan tanah, demikian pula 48 gedung pemerintahan Hamas, penguasa Jalur Gaza. Kerugian infrastruktur juga melibatkan kehancuran 30 kantor polisi dan 20 masjid. Kerugian fisik menyangkut jalan-jalan, sekolah-sekolah, jaringan gardu listrik, dan saluran air yang hancur membuat kehidupan di Jalur Gaza seperti di neraka. Sekitar 14 persen dari total bangunan di Jalur Gaza sudah tak bisa lagi digunakan.
Jalur Gaza adalah sebuah daerah kecil di sebelah barat daya Israel. Pada akhir perang Arab-Israel di tahun 1948, daerah ini diduduki Mesir. Tetapi pada Perang Enam Hari, daerah ini ditaklukkan Israel. Sebagian besar daerah ini dan Tepi Barat dikontrol Otoritas Nasional Palestina. Mulai tanggal 15 Agustus 2005 Israel mengundurkan diri dari Jalur Gaza. Semua pemukiman Yahudi di daerah digusur Tentara Israel. Hamas, akronim dari Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah (secara harfiah "Gerakan Perlawanan Islam" dan kata Arab untuk 'ketekunan'), adalah sebuah gerakan dan partai politik Palestina berhaluan Islamis yang dibentuk pada tahun 1987 untuk melakukan perlawanan terhadap pendudukan Israel di Palestina. Pada tahun 2006, partai ini memenangkan pemilu parlemen Palestina. Sejak awal Februari 2007, kelompok ini terlibat konflik dengan kelompok Fatah akibat kekalahan kelompok Fatah di pemilu parlemen 2006. Tujuan pendirian Hamas dicantumkan di aktanya: "mengibarkan panji-panji Allah di setiap inci bumi Palestina". Dengan kata lain: melenyapkan bangsa Israel dari Palestina dan menggantinya dengan negara Islam. Peluncuran Hamas menemukan momentumnya dengan kebangkitan Intifadah I, yang bergolak di sepanjang Jalur Gaza. Anak-anak Palestina tak gentar melawan tentara Israel dengan batu-batu sekepalan tangan. Sejak itu, sayap-sayap militer Hamas beroperasi secara terbuka. Mereka meluncurkan sejumlah serangan balasan termasuk bom bunuh diri ke kubu Israel.
Israel adalah sebuah negara di Timur Tengah yang dikelilingi Laut Tengah, Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir dan gurun pasir Sinai. Selain itu dikelilingi pula dua daerah Otoritas Nasional Palestina: Jalur Gaza dan Tepi Barat. Dengan populasi sebesar 7,28 juta jiwa, Israel merupakan satu-satunya negara Yahudi di dunia. Selain itu, terdapat pula beberapa kelompok etnis minoritas lainnya, meliputi etnis Arab yang berkewarganegaraan Israel, beserta kelompok-kelompok keagamaan lainnya seperti Muslim, Kristen, Druze, Samaritan, dan lain-lain.
Pendirian negara modern Israel berakar dari konsep Tanah Israel sebuah konsep pusat Yudaisme sejak zaman kuno, yang juga merupakan pusat wilayah Kerajaan Yehuda kuno. Setelah Perang Dunia I, Liga Bangsa-Bangsa menyetujui dijadikannya Mandat Britania atas Palestina sebagai "negara orang Yahudi. Pada tahun 1947, PBB menyetujui Pembagian Palestina menjadi dua negara, yaitu satu negara Yahudi dan satu negara Arab. Pada 14 Mei 1948, Israel memproklamasikan kemerdekaannya dan ini segera diikuti oleh peperangan dengan negara-negara Arab di sekitarnya yang menolak rencana pembagian ini. Israel kemudian memenangkan perang ini dan mengukuhkan kemerdekaannya. Akibat perang ini pula, Israel berhasil memperluas batas wilayah negaranya melebihi batas wilayah yang ditentukan oleh Rencana Pembagian Palestina. Sejak saat itu, Israel terus menerus berseteru dengan negara-negara Arab tetangga, menyebabkan peperangan dan kekerasan yang berlanjut sampai saat ini. Sejak awal pembentukan Negara Israel, batas negara Israel beserta hak Israel untuk berdiri telah dipertentangkan oleh banyak pihak, terutama oleh negara Arab dan para pengungsi Palestina. Israel telah menandatangani perjanjian damai dengan Mesir dan Yordania, namun usaha perdamaian antara Palestina dan Israel sampai sekarang belum berhasil.
Negara-negara Arab selama bertahun-tahun menolak hak Israel untuk berdiri. Nasionalisme Arab yang dipimpin oleh Nasser menyerukan penghancuran negara Israel. Pada tahun 1967, Mesir, Suriah, dan Yordania menutup perbatasannya dengan Israel dan mengusir pasukan perdamaian PBB keluar dari wilayah tersebut serta memblokade akses Israel terhadap Laut Merah. Israel kemudian melancarkan serangan terhadap pangkalan angkatan udara Mesir karena takut akan terjadinya invasi oleh Mesir. Hal ini kemudian berujung pada Perang Enam Hari yang kemudian dimenangkan oleh Israel. Pada perang ini, Israel berhasil merebut Tepi Barat, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan. Batas wilayah Yerusalem juga diperluas dengan memasukkan wilayah Yerusalem Timur. Sebuah undang-undang yang mengesahkan pemasukan wilayah ini kemudian ditetapkan. Hal ini kemudian berujung pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 478 yang menyatakan bahwa penetapan ini tidak sah dan melanggar hukum internasional.
Secara global Israel bisa dibagi menjadi dua: daerah Israel sejati dan daerah pendudukan. Jika daerah pendudukan Israel tidak ikut disertakan, maka Israel sejati dibagi menjadi enam distrik utama yang disebut dengan istilah mehozot (Distrik-distrik intifadah ("melepaskan diri") adalah sebuah istilah Islam yang berarti pemberontakan. Dalam konflik Israel-Palestina, Intifadah mencakup seluruh gerakan perlawanan untuk merebut kemerdekaan Palestina mulai dari aksi lempar batu anak-anak Palestina, peluncuran rudal dari organisasi rakyat Palestina, hingga aksi bom syahid yang dilakukan para pemuda Palestina dalam melawan tentara Israel dan kaum Yahudi.
Sudah lebih dari sepuluh tahun Israel melakukan operasi pembunuhan pimpinan garis keras Palestina. Puluhan komandan pasukan gerilya Palestina mati, tapi ratusan sukarelawan berebut menawarkan diri untuk dilatih mengisi lowongan yang ditinggalkan mereka yang dibantai. Sepuluh dibunuh, seratus yang maju. Politik basmi yang ditujukan pada gerakan yang didukung rakyat adalah pengantar ke jalan buntu. Hamas berkeras minta jam Palestina diputar kembali ke zaman pra-1940-an. Palestina harus diberi cap Islam yang jelas, di samping cap Kristen dan Yahudi. Hamas mau hidup berdampingan dengan umat Kristen dan Hibrani dalam satu negara Palestina. Mereka tidak suka solusi dua negara, karena tanah subur dan sumber air akan tetap dikuasai Israel. Namun demikian, Hamas bersedia menerima konsep dua negara untuk sementara dan dalam keadaan gencatan senjata jangka panjang, bukan damai. Hak Palestina yang direbut Israel harus dikembalikan, termasuk kampung halaman yang sekarang terletak di Israel.
Konflik Israel-Gaza 2008-2009 merujuk pada konflik yang berlangsung antara Israel dan Hamas, yang terjadi setelah kadaluarsanya gencatan senjata selama 6 bulan. Israel melancarkan serangan udara, disebut Operation Cast Lead terhadap Jalur Gaza sebagai balasan atas serangan roket dari Gaza dan Hamas.
Konflik ini murni persoalan politik bukan agama. Sebagian orang Palestina, sekitar 30 % orang-orang non muslim. Konflik politik dimana hak-hak tanah orang Palestina diambil alih Israel. Kalau sejarahnya dulu, kita ingat dengan bantuan Inggris dan kedepannya secara militer dibantu AS. Partai-partai berkuasa di Israel menjadikan perang sebagai propaganda menjelang pemilu parlemen Israel pada 10 Februari 2009. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan surat kabar Haaretz menunjukkan masyarakat Israel berada di belakang operasi itu. Bahkan, di samping 52 persen yang mendukung serangan udara, ada 19 persen yang mengharapkan serangan darat. Dari semua ini, ada 25 persen yang menganjurkan gencatan senjata secepatnya. Perkembangan ini menyelamatkan popularitas koalisi Partai Kadima (Menteri Luar Negeri Tzipi Livni) dan Partai Buruh (Menteri Pertahanan Ehud Barak), yang melorot ketika menghadapi Benjamin Netanyahu yang ultranasionalis. Koalisi partai yang berkuasa di Israel kepepet waktu. Paling sedikit ada dua ketidakpastian di benak mereka. Benar Obama menempatkan dua tokoh pro-Israel pada posisi utama dalam pemerintahannya, Rahm Emmanuel sebagai Kepala Staf Gedung Putih dan Hillary Clinton, menteri luar negerinya. Tetapi mengapa hal itu dilakukannya setelah menang pemilu secara amat meyakinkan buat apa merayu masyarakat Zionis Amerika lagi. Bukankah suara mereka sudah dikantonginya. Israel bimbang akan bentuk perubahan yang dijanjikan Obama. Akankah Amerika menjalankan politik luar negeri baru yang lebih menguntungkan bagi Amerika sendiri, atau melanjutkan politik luar negeri lama yang cetak birunya dibuat di meja gambar Tel Aviv? Yang jelas, Amerika sedang kehabisan uang. Nafsu terjun dalam avontur seperti Perang Vietnam atau serbu Irak mungkin masih besar, tapi tenaga dan dana sudah berkurang.
Awalnya memang Israel itu merupakan perpanjangan tangan dari Amerika Serikat di Timur Tengah untuk menguasai sumber daya alam, terutama minyak. Konstelasi politiknya, harus ada negara yang mengawasi Negara Timur Tengah secara geopolitik. Sehingga, negara Timur Tengah tidak menjadi kuat. Politik zionismenya dulu memang awal abad ke 20, Israel tidak memiliki tanah. Kemudian diberikan lahan di Arab untuk menguasai Timur Tengah walaupun secara paksa. Sulitnya, negara Timur Tengah semakin enggan untuk bersatu. Sementara di sisi lain, Israel semakin kuat karena didukung AS dan Barat. Sekarang, saat mereka menunggu mendapat kesempatan, Hamas menyerang duluan yang membuat Israel merasa tidak bersalah karena merasa mendapat legitimasi tadi. Bagaimanapun, Palestina akan hancur karena kekuatan persenjataan yang tidak seimbang.
Amerika serikat dan sekutunya sangat berkepentingan karena Timur Tengah begitu kaya dengan minyak, dan untuk menjaga dominasi kekuasaan Barat di Timur Tengah. Banyak kepentingan politik. Intervensi AS di Timur Tengah menjadi mudah kalau ada satu kekuatan yang bisa mengontrol kekuasaan di sana. Kalau bisa, bukan hanya sekedar mengawasi, namun memecah belah negara-negara tersebut.
Yang sulit itu, umat islam sulit bersatu dalam merespon masalah penderitaan rakyat Palestina. Ada Liga Arab, ada OKI (Organisasi Konferensi Islam). Namun, mereka tidak pernah secara nyata mendukung. Hanya gertak sambal karena terpecah-pecah, Arab Saudi tidak mungkin mendukung dan melawan AS karena mereka di bawah tekanan AS. Secara politik, AS terlalu mendominasi. Di dalam negara Palestina sendiri rakyatnya juga terpecah-pecah.
Kunci dari menyelesaikan Konflik Israel dan Palestina sebenarnya di tangan AS. Selama kepentingan AS di Timur Tengah ada pada Israel sulit untuk diselesaikan. Selain Bush, mantan Presiden Bill Clinton saja diakhir masa jabatannya ingin menyelesaikan krisis di Palestina namun tidak mampu. Mereka ingin di akhir jabatannya khusnul khatimah. Tapi AS tidak pernah dari awal berniat menyelesaikan. AS belum memiliki niat memuluskan terciptanya perdamaian di Timur Tengah karena memiliki kepentingan politik, militer, dan SDA. Sebaiknya AS dengan adanya presiden baru pada 21 Januari 2009 nanti mulai masuk kantor dengan adanya penyerangan ini menjadi momentum segera merubah kebijakan luar negeri. Kekacauan yang terjadi di dunia saat ini akibat kesalahan kebijakan luar negeri AS. Sesuai dengan janji Presiden AS yang baru Barack Obama yang mengedepankan dialog dan diplomasi.
Kini, ketika Israel membabi-buta menyerang Jalur Gaza, kawasan yang luasnya hanya separoh kota Padang, tak heran bila Iran disebut-sebut. Betapa tidak, kelompok Hamas yang diprediksi hanya memiliki ratusan personil bersenjata minim, ternyata mampu bertahan meski tiga pekan penuh diserang secara masif. Jauh di luar dugaan Rezim Zionis yang memprediksi bahwa Hamas bisa lumpuh total hanya dalam dua-tiga hari. Padahal, sebelumnya, selama 18 bulan Gaza sudah diblokade total dari darat, laut dan udara. Bahkan suplai makanan dan obat pun seringkali dilarang masuk ke Gaza dalam era blokade 18 bulan itu. Wilayah yang sudah sekarat itu ternyata mampu menahan serangan dari puluhan ribu pasukan Israel bersenjata super lengkap.
Sebagian analis Timur Tengah di media-media Barat menuding Iran berada di balik kekuatan Hamas. Pendapat Reva Bhalla, analis Timur Tengah yang menyebut bahwa Iran menggunakan jaringan canggih Hizbullah untuk menyelundupkan senjata ke Gaza. Sementara itu Los Angeles Times menurunkan artikel provokatif yang membela aksi pembunuhan massal di Gaza dengan judul “In Gaza, the Real Enemy is Iran”. Menurut penulisnya, Yossi Klein Halevi, pengaruh Iran sudah sangat besar di Timur Tengah dan jika Israel berhasil menyingkirkan Hamas, Israel akan mampu meningkatkan kekuatan-kekuatan anti Iran di Timur Tengah. Halevi juga menyatakan bahwa jika Hamas kalah, artinya Iran juga kalah, sehingga Presiden Obama akan mampu menekan Iran dalam proses diplomasinya.
Media masa Barat mengarahkan opini bahwa di balik semua dukungan Iran kepada Hamas adalah hitung-hitungan politik semata, apalagi Ahmadinejad akan bertarung lagi dalam pemilu Juni 2009. Hal ini dibantah oleh cendikiawan Iran yang mengajar di Syracuse University, Mehrzad Boroujerdi. Menurutnya, dalam pemilu di Iran, rakyat lebih mempertimbangkan faktor ekonomi dalam negeri, bukan politik luar negeri. Kandidat yang diperkirakan akan membawa perbaikan ekonomi lebih disukai rakyat Iran. Pada dua proses pemilu di Iran, tahun 2001 dan 2005, yang dimenangkan Khatami dan Ahmadinejad. Selama masa kampanye, isu Palestina sama sekali tidak menjadi jargon. Agenda perbaikan ekonomi dan peningkatan lapangan kerjalah yang menjadi pusat perhatian dalam arena kampanye.
Seiring dengan semua riuh-rendah persaingan politik dalam negeri, Palestina selalu menjadi bagian dari langkah Iran. Siapapun presiden yang terpilih, Palestina selalu mendapat porsi besar dalam kebijakan politik luar negerinya. Setiap sholat Jumat selalu didahului oleh yel-yel spontan para jamaah ‘Marg Bar Amrika, Marg Bar Israil!’ (Matilah Amerika, Matilah Israel!). Sebelum dan sesudah sholat Jumat, kotak sumbangan untuk rakyat Palestina selalu diedarkan. Setiap bulan Ramadhan, selalu diadakan demo besar-besaran di seantero negeri, untuk mendukung Palestina. Pembelaan kepada Palestina seolah telah menjadi bagian kehidupan bangsa Iran dan lepas dari kecenderungan politik atau perbedaan mazhab.
Yahudi menggerakkan seluruh mesin-mesin politiknya, termasuk agen-agennya di Amerika, Eropa, dan Timur Tengah untuk membidani lahirnya negara Israel pada tahun 1948. Secara politik, Inggris berada dibalik pendirian Israel melalui Deklarasi Balfour. Tetapi secara potensial, Amerika mendukung penuh Israel. Dalam diplomasi internasional, isu Holocaust dipakai agar Yahudi dikasihani dunia internasional. Melalui hak veto yang dimiliki Amerika dan Inggris di PBB, Yahudi bisa lenggang kangkung mengejar ambisi-ambisinya. Yahudi menyempurnakan usahanya, dengan menguasai media massa, membuat satuan intelijen yang handal (Mossad), menguasai pasar keuangan dunia, memiliki lembaga pusat ribawi IMF dan World Bank. Mereka juga menguasai Hollywood, dunia akademis, dunia riset, fashion, dan sebagainya. Termasuk dengan merilis agama baru di kalangan Ummat Islam, yang kita kenal sebagai SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme). Inilah kenyataan yang kemudian disebut sebagai: "Yahudi menggenggam dunia!" Bahkan negara sekuat Amerika pun bertekuk lutut di bawah dominasi Yahudi. Termasuk Barack Obama yang menjadi Presiden Amerika sekarang. Sebuah pertanyaan menarik, mengapa selama puluhan tahun terjadi konflik berdarah di Palestina dan tidak selesai-selesai? Jawabnya, selain karena memang "Kerajaan Bani Israil" merupakan cita-cita peradaban Yahudi sejak ribuan tahun lalu; juga karena banyaknya tangan-tangan non Yahudi yang membantu negara tersebut. PBB, Amerika, Inggris, Rusia, IMF, World Bank, dll. jelas mengabdi kepentingan Yahudi. Tetapi harus juga disadari banyak agen-agen Yahudi yang tersebar di negara-negara Arab. Mereka setiap hari, siang dan malam menyembah kepentingan Yahudi. Mereka adalah orang-orang kafir, meskipun KTP-nya Islam. Di Mesir, Yordan, Syria, Turki, dll. Banyak orang yang identitasnya Muslim, tetapi hatinya telah menjadi Yahudi. Bahkan di negara-negara kaya seperti UEA, Qatar, Bahrain, dll. Banyak dijumpai kemegahan jahiliyyah, yang sebenarnya merupakan hasil konspirasi Yahudi untuk menjauhkan Arab dari Islam. Kota seperti Dubai, Abu Dhabi, dan lainnya tidak kalah liberalnya dari kota-kota di Barat.
Dalam konfrontasi Arab-Israel orang banyak berasumsi bahwa semua negara di Timur Tengah yang bernapaskan Islam akan membantu Palestina. Kenyataannya tidak demikian. Hamas didukung Iran, Irak, dan Libanon, tiga negara dengan mayoritas Syiah. Gaza sudah lama diblokade oleh Israel. BBM, bahan makanan, dan obat-obatan dipersulit masuk ke Gaza. Ketika Israel mulai melancarkan bombardemen terhadap Gaza, banyak penduduk, terutama perempuan, orang jompo, dan anak, berduyun lari menuju pintu gerbang Mesir untuk mengungsi ke negeri umat terdekat. Solidaritas antar-umat pada umumnya juga tampak lemah. Lapangan terbang militer Turki dipakai oleh pesawat tempur Amerika untuk mengebom Irak. Tadinya Amerika mempersenjatai dan membiayai Irak untuk berperang melawan Iran. Saudi berupaya keras agar program nuklir Iran dicegah. Struktur kepentingan di antara negara-negara Arab tidak memberikan banyak harapan manfaat bagi Palestina dari pertemuan Liga Arab yang direncanakan sebagai reaksi terhadap perang Gaza.
Sampai sekarang Indonesia belum mengakui kedaulatan Israel. Tetapi kedaulatan Palestina diakui meskipun daerahnya belum pasti. Mantan presiden RI Abdurrahman Wahid (1999-2001) sempat berencana akan mengakui kedaulatan Israel dan membuka hubungan diplomatik. Berbeda dengan Presiden RI (2004-2009), Susilo Bambang Yudhoyono, yang menyatakan tidak akan membuka hubungan dengan Israel sebelum masalah Palestina dipecahkan dan pendudukan Israel atas Palestina diakhiri. Kedudukan Indonesia yang pro-Palestina memang masalah prinsip, sesuatu yang dinyatakan oleh konstitusi kalau kemerdekaan adalah hak setiap negara yang tidak bisa diganggu gugat, dan maka itu, semua bentuk penjajahan harus dihapuskan. Dituntun oleh keyakinan ini, Indonesia telah giat mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa lain, seperti Afrika Selatan dan Namibia. Kita menyesalkan keadaan dimana banyak orang mengira dukungan Indonesia untuk Palestina didorong oleh persaudaraan Islam.
Sebenarnya Indonesia telah berhubungan dengan Israel walaupun secara tidak langsung yang umumnya menyangkut hubungan perdagangan. Sebuah data intelijen yang baru-baru ini terungkap, militer Israel pernah melatih pilot-pilot pesawat tempur TNI AU untuk menerbangkan pesawat Hawk yang dimilliki Indonesia pada tahun 1980an.
Meski mendapat serangan membabibuta dari Israel, Hamas kembali menegaskan, pihaknya tidak membutuhkan relawan dari negara manapun untuk ikut berperang melawan Israel. Di sana Mujahidin sudah banyak, jadi di Palestina bukan Mujahidin yang dibutuhkan tetapi bantuan kemanusiaan. Departemen Luar Negeri (Deplu) menyatakan masih ada USD 800.000 bantuan dari Indonesia yang belum disalurkan ke Palestina. Dari target USD 1 juta, baru USD 200.000 yang telah disalurkan ke Jalur Gaza, bantuan yang diberikan masih berupa obat-obatan.
Sikap Indonesia sendiri meskipun mengutuk tapi seperti sleeping giant atau raksasa yang tertidur. Kalau saat Presiden Soeharto berkuasa dulu kita diperhitungkan. Kini, kita hanya dilihat sebelah mata. Ekonomi kita jatuh, stabilitas politik juga kurang terjaga. Timur Tengah sendiri menganggap kita bukan sebagai bagian dari negara Islam. Sebenarnya, dengan sikap Presiden SBY yang mengutuk dengan keras hingga mengirim surat ke Perserikatan Bangsa-bangsa itu saja sudah cukup baik.
Agresi militer Israel ini tidak terlepas dari kesalahan Palestina sendiri. Perjanjian gencatan senjata yang berakhir pada 19 Desember 2008, rupanya membuat Hamas melepaskan roket-roket ke arah Israel. Karena tembakan roket Hamas itulah yang membuat Israel menjadi terpancing, dan ternyata ini sudah ditunggu Israel dan membuat Israel merasa di atas angin dan memiliki keuntungan mendapat legitimasi untuk menyerang Hamas. Seharusnya, Israel dan Hamas kembali berdialog untuk beradamai dan menjaga gencatan senjata. PBB harus berperan dan selalu berada didaerah sebagai Peacekeeper di Palestina. Pasalnya, Israel kerap menolak resolusi PBB. Karena Israel sebagai bangsa Yahudi tidak akan pernah berhenti berusaha untuk menghentikan perlawanan bangsa Palestina. Perlunya tekanan internasional yang lebih kuat terhadap Israel dan Amerika Serikat karena hanya AS yang bisa memaksa Israel. Indonesialah yang memiliki peluang besar untuk menekan Negeri Paman Sam itu. Ini dikarenakan Indonesia dianggap dekat AS namun tidak tergantung AS. Indonesia relatif independen dari AS, kalau dibanding negara-negara Arab tertentu. Secara resmi Israel telah mengatakan memiliki dua tujuan utama, yakni menghentikan serangan roket-roket Hamas dari Gaza dan menghabisi Hamas. Yakinlah bahwa serangan Israel ke Gaza bukan serangan terakhir negeri poros setan itu. Itu hanyalah delay sebelum go with another aggression !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar