Entri Populer

Kamis, 12 Maret 2009

KOREA UTARA DAN SENJATA NUKLIRNYA


KOREA UTARA DAN SENJATA NUKLIRNYA





Pada pertengahan bulan Pebruari 2009 ini pemerintahan baru Presiden Ameika Serikat memulai kunjungan luar negerinya. Presiden Barack Obama melalui Menteri Luar negeri Hillary Clinton memulai lawatan pertamanya. Negara yang dipilih adalah negara-negara di kawasan Asia yaitu Jepang, Indonesia, China, dan Korea Selatan. Keempat negara Asia ini dipilih berdasarkan perubahan paradigma politik luar negeri Amerika Serikat yang berubah dari mementingkan hubungan dengan sekutu abadi mereka di Eropa kepada membina hubungan baru dengan negara-negara di Asia. Kunjungan ini diantaranya membawa misi untuk menjalin hubungan yang lebih erat dan menjaga kestabilan kawsan Asia Pasifik. Pada kunjungannya di Korea Selatan menteri luar negeri Amerika Seikat Hillary Clinton membawa pesan agar Korea Utara segera kembali untuk berunding mengenai keamanan dan kedamaian di Asia Pasifik.

Seperti kita ketahui bersama bahwa Korea Utara memiliki dan mengembangkan persenjataan nuklir yang mengancam keamananan dan kestabilan bagi seluruh negara di kawasan Asia Pasifik. Korea Utara dibujuk agar mau mencapai kesepakatan untuk menghentikan program nuklir, termasuk penghentian program pengembangan uranium yang ditakutkan Amerika dan tenttunya Korea Selatan dan Jepang pada senjata nuklir.


Sejarah berdirinya negara Korea Utara berawal dari Gojoseon 2,333B.C. Sejak 5.000 tahun yang lalu, Korea telah mengembangkan satu budaya yang sungguh berbeda yaitu menciptakan Hangeul, ditemukan pencetakan dengan menggunakan besi yang dapat dipindahkan (teknologi pencetakan). Kerajaan kuno Choson yang muncul sekitar 2.300 tahun sebelum Masehi. Pada sekitar abad ke 2 sebelum Masehi, bangsa Cina mendirikan koloni di daerah kerajaan tersebut. Namun, lima abad kemudian, bangsa Korea mengusir mereka keluar. Sejak itu, muncul sebuah kerajaan, yaitu kerajaan Silla. Kerajaan Silla (668–935) membawa puncak ilmu pengetahuan dan budaya yang besar. Akibat adanya kerusuhan yang terjadi di dalam negeri pada abad ke 10, dinasti Silla jatuh dan digantikan oleh dinasti Koryo. Selama periode kepemimpinan dinasti Koryo (935–1392), Korea mengalami banyak invasi. Tentara Mongol yang dipimpin oleh Genghis Khan menyerbu dan akhirnya menguasa Korea sehingga Korea menjadi bagian kekaisaran Mongol. Setelah runtuhnya Mongol pada akhir abad ke 14, berbagai golongan bangsawan dan militer berusaha memegang kekuasaan di Korea. Akhirnya, seorang jenderal yang bernama Yi Sung-Gy menghilangkan pemerintahan yang korup dan mendirikan dinasti Yi (1392 – 1910). Reformasi politik dan sosial dimulai. Ibu kota negara dipindahkan dari Kaesong ke Seoul. Namun, Korea masih tetap terancam oleh Cina dan Jepang. Kedua negara tersebut ingin menguasai Korea untuk memperluas wilayah mereka. Setelah serangan yang gagal dari kepang pada tahun 1592–1598, Korea jatuh di bawah kekuasaan Manchu dari utara.

Beberapa abad berikutnya, Korea menutup diri dari pergaulan dunia menjadi negara tirai besi. Pada tahun 1800-an, Rusia, Jepang, dan Cina berebut untuk menguasai Korea. Setelah perang Rusia–Jepang pada tahun 1904-1905, Jepang bergerak ke semenanjung Korea dan mendudukinya pada tahun 1910. Pada tahun 1919, penduduk Korea mengadakan demonstrasi secara damai karena menginginkan kemerdekaan. Akan tetapi, polisi Jepang membubarkannya, malah ada yang dibunuh dalam aksi tersebut.

Pada tahun 1945, di akhir perang dunia II, tentara Uni Soviet menduduki bagian utara Korea sedangkan tentara Amerika di bagian selatan. Setelah membuat suatu perjanjian, Korea dibagi sejajar dengan garis lintang 38˚. Pada bagian selatan berdirilah Republik Korea Selatan, sedangkan di daerah utara didirikan Korea Utara sebagai republik demokratik rakyat Komunis. Pada tanggal 25 Juni 1950, tentara Korea Utara menyerang Korea Selatan dalam upaya menyatukan Korea dibawah kekuasaan komunis. Korea Utara yang memakai persenjataan yang disediakan oleh Uni Soviet menang atas Korea Selatan. Akan tetapi, atas bantuan PBB, Korea Selatan diselamatkan atas kekalahan dan pertempuran pun diakhiri dengan gencatan senjata pada bulan Juli 1953. Sejak saat itu, berbagai perundingan yang dilakukan untuk menyatukan Korea atau unifikasi selalu gagal. Secara de facto Korea utar dan Korea Selatan masih dalam keadaan perang dan dalam ikatan gencatan senjata.
Mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush pernah membuat pernyataan bahwa Korea Utara adalah ”Axis Of Evil” (poros setan) tergolong sama seperti Afganistan, Irak dan Iran. Pernyataan ini muncul karena Amerika Serikat menganggap Korea Utara serupa dengan Irak dan Iran dan merupakan negara yang mendukung berkembangnya gerakan terorisme. Sementara itu politik luar negeri di masa pemerintahan George W. Bush salah satunya adalah memerangi terorisme internasional dan negara-negar yang mendukung gerakan teroris.
Dengan doktrin Pre emptive strike pemerintah Amerika Serikat dibawah mantan Presiden George W. Bush menganggap terorisme internasional merupakan ancaman utama, terlebih setelah terjadinya serangan 11 September 2001. Pemerintah Amerika Serikat telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi berkembangnya terorisme melalui berbagai jalur misalnya homeland security, termasuk diantaranya upaya diplomatik, militer, finansial, kerjasama dan operasi intelejen, dan law enforcement; yang dilaksanakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Akhirnya Amerika dan sekutunya melakukan invasi ke Afghanistan dan Iraq dengan dalih ingin menghancurkan terorisme. Hal itu juga menjadi alasan untuk dapat menyerang Korea Utara, tetapi negara Korea Utara dinilai akan dapat melancarkan serangan balasan dengaa rudal yang berhulu ledak nuklir sehingga itu membuat Amerika Serikat berpikir berkali-kali untuk tidak akan menyerang Korea Utara. Rudal balistik Korea utara dapat menjangkau negara-negara bagian di Amerika Serikat sehingga mengurungkan niatnya melancarkan serangan terhadap Korea Utara.
Meskipun Korea Utara merupakan negara tirai besi atau sangat terisolasi dari dunia luar. Pemimpin Korea Utara Kim rupanya sangat faham benar bagaimana melindungi negaranya dari serangan negara lain. Dan ia telah banyak belajar dari Perang Irak dan perlombaan nuklir di zaman perang dingin. Kim Yong-Il telah belajar, bila sebuah negara memiliki kemampuan senjata nuklir, maka negara lain tidak berani menyerang negaranya. Oleh sebab itulah negara yang memiliki ibukota Pyongyang ini dengan sekuat tenaga mengembangkan dan memiliki senjata pemusnah masal itu dan bisa dikatakan memiliki perisai yang tangguh untuk melindungi diri dari ancaman invasi negara lain.

Upaya untuk menuntaskan isu nuklir Korea Utara dilaksanakan oleh hampir seluruh negara didunia. PBB berperan sangat keras meminta Korea Utara denuklirisasi. Hal itu meredakan ketidakpastian di kawasan Asia Timur Laut, dan menjadi suatu terobosan untuk membangun perdamaian di kawasan ini. Semula Korea Utara mau menghentikan pengayaan uraniumnya dengan imbalan bantuan pangan dan natuan energi bagi rakyatnya yang ditimpa kelaparan akibat gagal panen. Namun upaya itu kembali buntu setelah Korea Utara kembali melanjutkan pengayaan Uraniumnya.
Negara Indonesia telah berkali-kali dengan membawa nama ASEAN dan sebagai sesama orang Asia untuk menengahi atau mediator ketegangan ini. Inisiatif ASEAN juga didasarkan atas perkembangan di Semenanjung Korea yang semakin memprihatinkan. Akan tetapi pihak Korea Utara hanya mau berdialog langsung dengan negara sekitarnya yaitu Korea Selatan dan Jepang secara langsung. Negara Indonesia sesuai politik strateginya yang bebas aktif berkepentingan menjaga perdamaian dunia.
Ancaman Korea Utara maupun Amerika Serikat menimbulkan kecemasan banyak pihak. Klaim Korut yang memiliki 100 rudal nuklir dan diarahkan ke AS telah menimbulkan reaksi balik pihak AS bahwa negaranya siap menyerang fasilitas nuklir Korea Utara dengan bom nuklir serta memblokir semua fasilitas ekspor senjata nuklir Korut. Ancaman satu sama lain hingga kini terus berlangsung guna memojokkan satu sama lain ketimbang harus mencari upaya damai secara sungguh-sungguh. Korea utara terus mengancam akan membangun reaktor nuklir, mengekspor senjata nuklir dan melakukan tes rudal jika AS tidak bersedia mengganti kompensasi bagi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir dengan pemberian bantuan pangan, obat-obatan dan penyedian energi baru diluar energi nuklir.
Strategi baru pemerintahan presiden Amerika Serikat Barack Obama yang mengedepankan dialog dengan istilah Smart Power dapat menjadi angin segar bagi kedamaian dimuka bumi. Beliau mau duduk satu meja dan menyamakan persepsi perdamaian dengan pemimpin-pemimpin negara lain seperti Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Venezuela Hugo Chavez, dan juga rezim otoriter Korea Utara yang dulu dianggap sebagai negara poros setan oleh presiden Amerika Serikat yang dulu. Kita dapat menunggu dan mendorong kemajuan perundingan agar dapat tercipta persatuan Korea secara damai.

Dari tulisan di atas maka dapat disimpulkan bahwa alasan untuk terus mengembangkan senjata nuklir oleh Korea Utara adalah ketakutan yang berlebihan akan invasi negara lain terhadap negaranya. Proses perdamaian di semenajung Korea ini akan memerlukan proses yang panjang dan alot. Kesungguhan hati dan terbukanya pikiran pemimpin Korea Utara dapat menjadi jalan keluar yang bisa mengendurkan suasana yang selalu tegang. Kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat yang baru oleh pemerintahan Barrack Obama dapat menjadi obat mujarab dalam meredam konstelasi poitik dan militer yang memanas.






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar